Main Article Content

Abstract

The issue of neutrality and professionalism is still attached to the local media. On the one hand, many local media claim to position themselves as channels of political communication. However, on the other hand, the local media are suspected of being political agents of regional leaders. This study aims to describe the position of local media in the democratization process. The paradigm used in this research is constructivism with a qualitative – dialectical approach. Data collection techniques are in – depth interviews, observation, and literature study. There were four informants consisting of two local politicians and two local media editors. The research data were analyzed using thematic analysis. The results showed that the positioning of the local media as a channel of political communication for local political elites was still strong. Elements of proximity and local values ​​make local media still exist. Then, of the four interests that influence media content, economic and political interests still dominate. Local media also have not fulfilled all the requirements for the creation of a pro-democracy media system. The conditions that are not met are tight supervision of the government, guaranteeing protection for weak groups, and the ability to represent group interests.


Keywords : Democracy; Local Media; Media Agenda; Political Actor; Political Communication

Keywords

Democracy Local Media Media Agenda Political Actor Political Communication

Article Details

How to Cite
Yanto, S. H., Hamdani Haerudin, W., Freddy Prisanto, G., & Febrina Ernungtyas, N. (2020). Media Lokal dalam Proses Demokratisasi: Agen Politik atau Saluran Komunikasi Politik?. KOMUNIDA : Media Komunikasi Dan Dakwah, 10(02), 159-174. https://doi.org/10.35905/komunida.v10i02.1586

References

  1. Assegaf, D. (2006). Kebebasan Pers Indonesia.
  2. Bharata, B. (2003). RUU Penyiaran 2002 Sebagai Realitas Media. Studi Atas Manajemen Redaksional Suratkabar Indonesia Dalam Merekonstruksi Realitas Penyusunan dan Pengesahan RUU Penyiaran 2002 (SKH Media Indonesia-Jakarta dan SKH Jawa Pos-Surabaya). Universitas Indonesia.
  3. Chaffee, S. (2001). Studying The New Communication of Politics. Political Communication, 18, 237–244.
  4. Curran, J., & Seaton, J. (2018). Power Without Responsibility. Routledge.
  5. D’Haenens, L., Gazali, E., & Verelst, C. (1999). Indonesia television news-making before and after Suharto. Gazette, 61, 127–152.
  6. Dachlan, D. (1999). Strategi Komunikasi Memasyarakatkan Perda No. 5/1998 Tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah DKI Jakarta (Studi Kasus pada Dinas Kebersihan DKI Jakarta). Universitas Indonesia.
  7. Djuarsa, S. (2005). Empat Premis Pengaruh Media.
  8. Gazali, E. (2004). Communication of Politics and Politics of Communication in Indonesia: A Study on Media Performance, Responsibility and Accountability. Radboud Universiteit Nijmegen.
  9. Guba, E. G., & Lincoln, Y. S. (2005). Paradigmatic Controversies, Contradictions, and Emerging Confluences. In The Sage handbook of qualitative research, 3rd ed. (pp. 191–215). Sage Publications Ltd.
  10. Harris, S. (2004). Partai-Partai Politik, Pemilihan Umum dan Dilema Demokratisasi di Indonesia.
  11. Hayat, N., & Hasrullah, H. (2017). Positioning Politik Kampanye Pemilihan Presiden 2014 dalam Iklan Video Musik Youtube. KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 5(1), 192–209.
  12. Holik, I. (2004). Strategi Komunikasi Partai Politik Peserta Pemilu 2004 (Evaluasi Strategi Komunikasi Politik Partai PKB Kabupaten Bekasi tentang Isu Keterwakilan Perempuan Pada Lembaga Legislatif). Universitas Indonesia.
  13. Kulsum, N. M. (2000). Kampanye Politik Partai Amanat Nasional Dalam Pemilu 1999. Universitas Indonesia.
  14. Lasswell, H. D. (1948). The structure and function of communication in society. In B. L (Ed.), The communication of ideas: A series of addresses (pp. 37–51). Institute for Religious and Social Studies.
  15. Mahmud, Y. (2000). Persepsi Media Cetak Dalam Masa Perubahan dan Orde Baru ke Era Reformasi: Suatu Analisa Isi Surat Kabar Kompas, Media Indonesia, dan Republika Terhadap Prabowo Subianto Dalam Kasus Penculikan Aktivis. Universitas Indonesia.
  16. McCombs, M. E., & Shaw, D. (1991). The agenda-setting function of mass media. In Agenda setting: Readings on media, public opinion, and policymaking. Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
  17. McLeod, D. M., Kosicki, G. M., & McLeod, J. M. (2002). RESURVEYING THE BOUNDARIES OF POLITICAL COMMUNICATION EFFECTS. In J. Bryant & D. Zillmann (Eds.), LEA’s communication series. Media effects: Advances in theory and research. Lawrence Erlbaum Associates Publishers.
  18. McNair, B. (1995). An Introduction to Political Communication. Routledge.
  19. McQuail, D. (1987). Mass Communication Theory (2nd ed.). SAGE Publications.
  20. Mentari, D. (2006). Konstruksi Citra Politisi Selebriti untuk Political Marketing Memanfaatkan Weblog (Studi Kualitatif Weblogs Angelina Sondakh). Universitas Indonesia.
  21. Mufid, M. (2003). Interaksi Kekuasaan Seputar Regulasi Penyiaran: Studi Ekonomi Politik UU N. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. Universitas Indonesia.
  22. Muntaha, A. (2000). Manajemen Pemberitaan Pemilu 1999: Studi Ekonomi Media Tentang Manajemen Pemberitaan Pers Dalam Kampanye Pemilu 1999. Universitas Indonesia.
  23. Nainggolan, J. B. (2002). Pers dan Kekuasaan Presiden (Studi Konstruksi Pemberitaan Surat Kabar Nasional Terhadap Pidato Kenegaraan Presiden 1994-2000. Universitas Indonesia.
  24. Nasrullah. (2003). Liputan Media dan Perhatian Legislatif Pada Isu-isu Nasional; Studi Agenda Media Surat Kabar, Majalah, Televisi dan Agenda Publik Anggota DPR RI Tentang Isu-isu Nasional. Universitas Indonesia.
  25. Riswandi. (2000). Isu-Isu Demokratisasi Pada Surat Kabar Indonesia Era Orde Baru dan Era Reformasi (Suatu Analisis Komunikasi Politik Dalam Harian Kompas, Merdeka dan Republika). Universitas Indonesia.
  26. Saptoprabowo, E. (1999). Wacana Media Tentang Pemberitaan Sidang Istimewa MPR (SI-MPR) Tahun 1998 (Suatu Analisis Wacana di Harian Kompas, Media Indonesia dan Republika. Universitas Indonesia.
  27. Savitry, D. A. (2003). Konflik Internal PPP Menjelang Pemilu 2004 (Suatu Analisis Isi Dalam Liputan Berita, Artikel dan Tajuk Surat Kabar Kompas, Media Indonesia dan Republika Periode Oktober 2001 s/d Januari 2002). Universitas Indonesia.
  28. Sekundatmo, B. (2006). Kontestasi Negara, Industri dan Masyarakat Sipil dalam Kontroversi Peraturan Pemerintaha Tentang Penyiaran (Participatory Action Research di Komisi Penyiaran Indonesia Pusat). Universitas Indonesia.
  29. Sen, K., & Hill, D. (2000). Media, culture and politics in Indonesia. Oxford University Press.
  30. Setyawati, S. A. (2001). Perencanaan Iklan Kampanye Partai Politik : Studi Evaluasi Perencanaan Iklan Kampanye PDI-Perjuangan Pada Pemilu 1999. Universitas Indonesia.
  31. Snyder, J. (2003). Dari pemungutan suara ke pertumpahan darah : demokratisasi dan konflik nasionalis (M. Aleida, P. T. Simbolon, & M. U. Christina (eds.)). Kompas Gramedia.
  32. Susanto, E. H. (2017). MEDIA SOSIAL SEBAGAI PENDUKUNG JARINGAN KOMUNIKASI POLITIK. Jurnal ASPIKOM. https://doi.org/10.24329/aspikom.v3i3.123
  33. Urofsky, M. (2002). Prinsip-Prinsip Dasar Demokrasi. In Suwardi (Ed.), Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Galang Press.
  34. Watik, U. A. (2005). Strategi Kampanye Politik Untuk Jabatan Calon Presiden RI dari Partai Amanat Nasional (Kampanye Amien Rais Dalam Pilpres 2004). Universitas Indonesia.
  35. Yusuf, I. A. (2011). Media Lokal dalam Konstelasi Komunikasi Politik di Daerah. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 14, 297–316.