Main Article Content

Abstract

This paper aims to describe and analyze the reality of the involvement of local governments in legal aspects that have a function as a means of connecting dialogue that the Singkawang City FKUB will carry out within the framework of maintaining social harmonization between religious communities in this city. This paper will focus on the communication of tolerance carried out by FKUB based on the means of legislation and regulations set by the local government. This type of research is qualitative, and the technique of obtaining data is using observations and interviews. This paper finds that local government laws related to harmonization are contained in the Regional Regulation on the RPJMD and the Mayor's Decree. FKUB's efforts in building social harmonization are by establishing FKPELA and FK. PLATO as a more specific forum for dialogue. The absence of other regional laws and regulations on harmonization arrangements as a derivative form of the RPJMD makes the tolerance communication built by the provincial government unable to connect for FKUB to innovate in conducting a dialogue about tolerance. Thus, the involvement of local governments in the harmonization aspect is only limited to slogans and formalities and places more emphasis on the role of FKUB.

Article Details

How to Cite
saliro, srisudonosaliro, Marilang, M., & Kurniati, K. (2021). Tolerance Communication: Local Government Law, FKUB Dialogue Skills, and Social Harmonization in Singkawang City. KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan, 14(1), 90-105. https://doi.org/10.35905/kur.v14i1.2079

References

  1. Ajidin, Z. A. (2020). Praktik Dialog Antar Umat Beragama (Studi Pada Komunitas Islam-Kristen Di Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat). POROS ONIM: Jurnal Sosial Keagamaan, 1(1), 67–78.
  2. Arikunto, Suhardjono, & Supardi. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
  3. Aslati. (2014). Optimalisasi Peran FKUB dalam Menciptakan Toleransi Beragama di Kota Pekanbaru. TOLERANSI, 6(2).
  4. Baharuddin. (2021). Selaku Ketua FKUB Kota Singkawang Tahun 2017-2022.
  5. Bunga, M. (2019). Model Pembentukan Peraturan Daerah Yang Ideal dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Jurnal Hukum & Pembangunan, 49(4), 818–833.
  6. Firdaus, M. A. (2014). Eksistensi FKUB dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, Vol. 29, No. 1, 63–84.
  7. Hadi, S. (2004). Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset.
  8. Haryanto, J. T. (2012). Interaksi dan Harmoni Umat Beragama. Walisongo, 20(1), 211–234.
  9. Hasrullah. (2009). Dendam Konflik Poso. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  10. Hermawan, W. (2010). Komunikasi Antarumat Beragama (Studi Kasus Sikap Sosial dalam Keragaman Beragama di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat). Jurnal Kom dan Realitas Sosial, 1(1), 62–74.
  11. Hm, A., Mualimin, M., & Nurliana, N. (2018). Elit Agama dan Harmonisasi Sosial di Palangka Raya. Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 16(2), 277. https://doi.org/10.18592/khazanah.v16i2.2337
  12. Maftuchah, F. (2015). Dialog dan Toleransi (Sebuah Alternatif Dakwah Ditengan Pluralitas Agama). Jurnal Komunika, 9(1), 58–66.
  13. Mudzhar, M. A. (1998). Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  14. Muhaimin AG. (2004). Damai di Dunia Damai untuk Semua: Perspektif Berbagai Agama. Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI.
  15. Muharam, R. S. (2020). Membangun Toleransi Umat Beragama Di Indonesia Berdasarkan Konsep Deklarasi Kairo. Jurnal HAM, 11(2), 269–283.
  16. Muhdina, D. (2017). Peran Pemerintah Terhadap Kerukunan Umat Beragama Di Kota Makassar. Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam, 21(2), 1–14.
  17. Ngalimun. (2017). Ilmu Komunikasi Sebagai Pengantar Praktis. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
  18. Philips, G., & Ziaulhaq, M. (2019). Integritas Terbuka: Keterampilan Berdialog Antar Umat Beragama. Malang: Madani Media.
  19. Riyadi, A., & Wigati, Y. I. (2020). Komunikasi Interpersonal Komunitas Pelita dalam Membangun Toleransi Beragama. Jurnal Komunikasi Islam, 10(01), 146–172.
  20. Saliro, S. S. (2019). Perspektif Sosiologis Terhadap Toleransi Antar Umat Beragama Di Kota Singkawang. Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 17(2), 283. https://doi.org/10.18592/khazanah.v17i2.3214
  21. Saliro, S. S., Tamrin, & Baharuddin. (2021). Toleransi Meja Makan: Bisnis, Budaya Pedagang Kuliner, dan Interaksi Sosial Pedagang di Kota Singkawang. Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, 5(1), 31–40.
  22. Saptoyo, R. D. A. (2021). Salatiga Disebut Sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia, Apa Indikatornya ? Kompas.com.
  23. Saputra, K. (2017). Perancangan Sistem Informasi Pariwisata Berbasis Website Sebagai Media Promosi di Singkawang-Kalimantan Barat. JEBI: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 2(1), 11–16. https://doi.org/10.37673/jebi.v2i1.48
  24. Sazali, H., Guntoro, B., Subejo, & Partini, SU. (2015). Penguatan Toleransi Agama “Analisis Komunikasi Pembangunan Agama” (Studi Pemerintahan Kota Bogor). Jurnal Komunikasi Profetik, 8(2), 37–50.
  25. SETARA Institute. (2020). Ringkasan Eksekutif Indeks Kota Toleran 2020. SETARA Institute for Democracy and Peace.
  26. Suprapto, W. (2019). Cap Go Meh Sebagai Media Pendidikan Resolusi Konflik di Tengah Keberagaman Etnis Kota Singkawang. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia, 4(1), 1–7.
  27. Zaelani. (2012). Pelimpahan Kewenangan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Jurnal Legislasi Indonesia, 9(1), 119–134.