Kritik Terhadap Konsep Sekufu’ Dalam Pernikahan: Analisis Pemikiran Syeikh Zainuddin Al-Malibari Dan Relevansinya Dalam Konteks Kontemporer
DOI:
https://doi.org/10.35905/hukamaa.v3i1.14115الكلمات المفتاحية:
Sekufu, Kafa’ah, Hukum Islam, Fikih, Pernikahanالملخص
Konsep sekufu’ dalam pernikahan adalah salah satu elemen krusial dalam hukum Islam yang menekankan pentingnya kesetaraan antara calon suami dan istri demi terciptanya keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in menjelaskan bahwa sekufu’ bukanlah syarat sah pernikahan, tetapi merupakan hak bagi perempuan dan walinya dalam mempertimbangkan kelayakan pasangan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis konsep sekufu’ yang dikemukakan oleh Syeikh Zainuddin Al-Malibari serta mengkritisi relevansinya dalam konteks sosial dan hukum Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data primer diperoleh dari kitab Fath al-Mu’in dan kitab-kitab fikih perbandingan mazhab, sementara data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang membahas sekufu’ dalam pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syeikh Zainuddin menekankan enam aspek sekufu’, yaitu agama, kehormatan diri (‘iffah), nasab, kemerdekaan (hurriyah), pekerjaan/status sosial, dan kesehatan/kesempurnaan fisik. Analisis kritis terhadap konsep ini menunjukkan bahwa beberapa aspek sekufu’, seperti kemerdekaan dan nasab, sudah tidak relevan dalam konteks modern, di mana prinsip kesetaraan dan keadilan lebih diutamakan. Sementara itu, aspek agama dan akhlak masih tetap menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan pasangan. Dengan demikian, reinterpretasi konsep sekufu’ diperlukan agar sesuai dengan perkembangan sosial dan hukum Islam saat ini tanpa menghilangkan prinsip dasar yang diajarkan dalam syariat Islam.
المراجع
Abu Zahrah. Usul Al-Fiqh. Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1958.
Ahmad Baso. Islam Nusantara: Sejarah, Wacana, Dan Gerakan. Jakarta: Pustaka Afid, 2018.
Ahmad Warson Munawir. Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.
Ibn Abidin. Radd Al-Muhtar. Beirut: Dar Al-Fikr, 1992.
Kementrian Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
M. Atho Mudzhar. Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta: INIS, 1993.
M. Fikril Hakim dan Abu Sholahuddin. Fiqh Populer Terjemah Fathul Muin. Kediri: Lirboyo Press, 2023.
Manzur, Ibn. Lisan Al-‘Arabi. 3rd ed. Beirut: Dar al-Shadr, n.d.
Muhammad Lutfi Hakim. Fiqh Pernikahan Islam Kerajaan Kubu (Analisis Isi Manuskrip Jaduwal Nikah Karya Mufti Ismail Mundu 1937). Kalimantan Barat: IAIN Pontianak Press, 2019.
Mustafa al-Khin dan Mustafa al-Bugha. Al-Fiqh Al-Manhaji ‘Ala Mazhab Al-Imam Al-Syafi’I. Surabaya: Al-Fithrah, 2000.
Nurdin, Subhan. Kado Pernikahan Buat Generasiku. Bandung: Mujahit Press, 2002.
Salma Nida. “Konsep Kafa’ah Dan Dampaknya Terhadap Ketahanan Keluarga.” Jurnal Studi Hukum Islam: Isti’dal 9, no. 2 (2022).
Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Universitas Kebangsaan Malaysia, 1972.
Tri Puji Ningsih. Konsep Kafa’ah Dalam Pemilihan Pasangan Menurut M. Quraish Shihab Dalam Perspektif Fikih. IAIN Purwokerto: Sarjana Hukum, 2020.
Wahbah al-Zuhaili. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu. Damaskus: Dar al-Fiqr, n.d.
Yusuf Al-Qaradawi. Fiqh Al-Mar’ah Al-Muslimah. Kairo: Dar Asy-Syuruq, 2000.
Zahrah, Muhammad Abu. Al Ahwal Al Syakhshiyyah. Kairo: Dar Al Fikr Al Arabi, 2005.
Zain al-Din bin ‘Abd al-‘Aziz al-Malibariy. Fath Al-Mu’in Bi Syarh Qurrah Al-‘Ain Bi Muhimmat Al-Din. Beirut: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 2012.


.gif)

