Harmonisasi Hukum Islam dan Adat Tentang Mahar dan Uang Panai’ dalam Perspektif Antropologi Hukum Islam

Authors

  • Mawaddah IAIN PAREPARE
  • Sudirman L IAIN Parepare
  • Syafaat Anugrah Pradana IAIN Parepare

DOI:

https://doi.org/10.35905/al-hukamaa.v3i3.15278

Keywords:

Adat, Antropologi Hukum Islam, Mahar, Uang Panai, Hukum Islam

Abstract

Penelitian ini berangkat dari urgensi memahami hubungan antara hukum Islam dan adat dalam praktik pemberian mahar dan uang panai’ di masyarakat Bugis-Makassar, yang sering kali menimbulkan perdebatan antara nilai syariat dan tuntutan sosial-budaya. Dalam konteks hukum keluarga Islam, muncul pertanyaan bagaimana hukum Islam mengakomodasi tradisi lokal tanpa mengabaikan prinsip keadilan, kemaslahatan, dan kemudahan (taysir). Berdasarkan hal tersebut, rumusan masalah penelitian ini difokuskan pada: (1) bagaimana konsep mahar dalam hukum Islam dan makna uang panai’ dalam tradisi adat Bugis-Makassar; (2) bagaimana bentuk harmonisasi hukum Islam dan adat dalam perspektif antropologi hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan antropologi hukum Islam, yaitu menganalisis teks-teks normatif Islam (al-Qur’an, hadis, dan literatur fikih) serta data budaya dari kajian antropologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar merupakan kewajiban syar’i sebagai simbol penghormatan terhadap perempuan, sedangkan uang panai’ adalah ekspresi penghargaan sosial yang hidup dalam budaya lokal. Keduanya dapat saling melengkapi selama uang panai’ tidak diposisikan sebagai harga diri perempuan dan tidak memberatkan calon mempelai laki-laki. Dalam perspektif antropologi hukum Islam, tradisi uang panai’ termasuk kategori ‘urf sahih karena mengandung nilai sosial yang tidak bertentangan dengan syariat. Kesimpulannya, harmonisasi antara hukum Islam dan adat dalam praktik mahar dan uang panai’ mencerminkan fleksibilitas dan adaptabilitas hukum Islam terhadap nilai-nilai budaya lokal guna mewujudkan kemaslahatan dan keadilan dalam masyarakat Muslim Indonesia.

 

References

Abidin, Z. (2020). Makna sosial uang panai’ dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Jurnal Al-Ulum, 20(1).

Aini, N. (2021). Faktor sosial ekonomi dalam penentuan besaran uang panai’ di Bugis-Makassar. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(1).

Al-Nawawi. (1996). Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Syafi’i, M. b. I. (1993). Al-Umm. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Suyuthi. (1998). Al-Asybah wa al-Nazhair. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Zuhaili, W. (1989). Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu (Juz VII). Damaskus: Dar al-Fikr.

Amiruddin. (2019). Uang panai’ dalam perspektif hukum Islam dan budaya Bugis-Makassar. Makassar: Alauddin Press.

Asnidar. (2020). Tradisi uang panai’ dan relevansinya dengan hukum Islam. Jurnal Hukum dan Syariah, 8(2).

Asri, N. (2021). Mahar dan uang panai’: Kajian adat dan hukum Islam pada masyarakat Bugis Makassar. Al-Fikr: Jurnal Ilmiah, 24(2), 95.

Badewi, N. (2020). Interaksi syariat dan adat dalam tradisi pernikahan Bugis. Al-Manhaj: Jurnal Hukum Islam, 10(1), 48.

Daeng, H. (2021). Harmonisasi hukum Islam dan adat Bugis-Makassar dalam tradisi perkawinan. Jurnal Hukum Islam Nusantara, 4(2).

Darwis, H. (2022). Tradisi uang panai dalam adat pernikahan Suku Bugis. Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora.

Departemen Agama RI. (2010). Al-Qur’an dan terjemahannya (Q.S. An-Nisa’: 4). Jakarta: PT Syaamil.

Fauzi, M. (2023). Manfaat ta‘lim al-Qur’an sebagai mahar (kajian fiqh muqaran). Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 12(1).

Fitriani, & Lantara, B. (2020). Harmonisasi nilai syariah dan adat dalam penetapan mahar di Makassar. Jurnal Hukum Keluarga Islam Nusantara, 6(2).

Griffiths, J. (1986). What is legal pluralism? Journal of Legal Pluralism, (24), 5.

Habib, A. M. (2023). Harmonisasi hukum Islam dan adat dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar. Jurnal Al-Manhaj, 12(2).

Hakim, M. L. (2018). Konsep mahar dalam Al-Qur’an dan relevansinya dengan Kompilasi Hukum Islam (Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang).

Hamiyuddin, & Hanafi, S. (2023). Mahar essence: Sharia Maqasid’s perspective. International Journal of Islamic Law, 2(3).

Khaeruddin. (2023). Tinjauan antropologi hukum terhadap uang panai’ dan kesetaraan gender. Jurnal Al-Adl, 13(1).

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar antropologi sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Mattulada. (1985). Latoa: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Misbah, M. (2015-2025). Konsep mahar dalam Al-Qur’an dan relevansinya. Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan.

Nur Ainun. (2022). Relasi antara mahar dan uang panai’ dalam pernikahan adat Bugis. Jurnal Hukum Islam dan Sosial Budaya, 8(2).

Nuri, M. (2024). Tradisi pemberian uang panai dalam pernikahan pada masyarakat Sulawesi Selatan perspektif maqāṣid asy-syarī‘ah. Wasatiyah: Jurnal Hukum, 5(2).

Qaradawi, Y. al-. (2008). Fiqh al-Maqasid: Dirasah Maqasidiyyah li Ahkam al-Syari’ah. Kairo: Dar al-Syuruq.

Quraish Shihab, M. (1996). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir maudhu’i atas pelbagai persoalan umat. Bandung: Mizan.

Rahman, F. (1982). Islam and modernity: Transformation of an intellectual tradition. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Rasyid, & Yusuf. (2022). Negosiasi ulama dan tokoh adat dalam penentuan nilai uang panai’. Jurnal Ushuluddin dan Fiqh, 10(1).

Republik Indonesia. (1974). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1

Republik Indonesia. (1991). Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Downloads

Published

2025-12-28