PODCAST DENGAN PEMIMPIN INDONESIA IDEAL : SUATU ANALISIS KRITIS TERHADAP PERAN PODCAST SEBAGAI SALURAN KEBEBASAN MENYATAKAN PENDAPAT
PODCAST WITH IDEAL INDONESIAN LEADER: A CRITICAL ANALYSIS OF THE ROLE OF PODCAST AS A CHANNEL FOR FREEDOM OF EXPRESSION
DOI:
https://doi.org/10.35905/jourmics.v4i1.15505Kata Kunci:
Podcast Politik, Pemimpin Ideal Indonesia, Kebebasan Berekspresi, Critical Discourse AnalysisAbstrak
Artikel ini menganalisis secara kritis peran podcast sebagai saluran kebebasan berekspresi dalam membentuk wacana mengenai sosok pemimpin ideal Indonesia melalui Critical Discourse Analysis (CDA) berdasarkan model Fairclough. Dengan mengkaji kasus konkret seperti KPU RI Episode 9: Pemimpin Ideal di Mata Mahasiswa (wadah bagi pemangku kepentingan muda formal dan intelektual), Podcast: Kemarahan Jokowi dan Versi Rocky Gerung tentang Pemimpin Negara Ideal (membandingkan narasi resmi dengan kritik tajam), Episode 31: Putu Yoga: Ketua KMHDI – Partai Politik Ideal? (perspektif organisasi non-pemerintah), serta Menerapkan Ilmu Kepemimpinan dari Pak Jonan. Pemimpin Harus Terlihat. Pemimpin Harus Hadir (implementasi kepemimpinan yang terlihat): penelitian mengungkap bagaimana pembingkaian naratif, humor satir, retorika ideologis, dan perbandingan kontras digunakan untuk membangun citra kepemimpinan ideal sekaligus menantang kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa podcast memperluas ruang deliberatif melalui dialog panjang dan integrasi media sosial, sehingga memungkinkan kritik sosial sebagai mekanisme kontrol. Misalnya, diskusi oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) memicu perdebatan publik tentang integritas pemilu, sementara kritik Rocky Gerung terhadap “campur tangan” Jokowi menjadi viral di X dan menggerakkan opini anak muda. Namun, kebebasan ini dibatasi oleh dominasi elite (mayoritas host berpusat di Jakarta), komersialisasi (sponsor memengaruhi pembingkaian), polarisasi algoritmik, dan represi hukum (UU ITE mengancam host independen). Kasus Jonan menegaskan pentingnya kepemimpinan yang terlihat dan akuntabel, sementara Putu Yoga memperluas wacana menuju partai politik ideal berbasis nilai-nilai Hindu dan demokrasi. Artikel ini menyimpulkan bahwa podcast merupakan saluran kebebasan berekspresi yang ambivalen: memberdayakan suara anak muda, aktivis, dan intelektual, tetapi juga rentan terhadap manipulasi kekuasaan. Efektivitasnya bergantung pada literasi digital, independensi editorial, dan reformasi regulasi agar podcast benar-benar menjadi platform bagi rakyat yang menampilkan pemimpin ideal Indonesia yang etis, inklusif, dan responsif.



.gif)

.png)
