Main Article Content

Abstract

Melestarikan budaya menjadi aspek penting dalam kehidupan masyarakat adat karena identik dengan gaya hidup yang masih berpedoman pada adat istiadat setempat. Proses pelestarian budaya pada masyarakat adat tidak terlepas dari peran penting Du’a Mo’an Watu Pitu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Du’a Mo’an Watu Pitu dalam melestarikan budaya Kula Babong (demokrasi)  dan apa saja nilai-nilai budaya yang terdapat pada  budaya Kula babong (demokrasi) di Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah ketua adat, sekretaris adat, dan tokoh budayawan pada masyarakat etnis Krowe Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah peran Du’a Mo’an Watu Pitu dalam melestarikan budaya Kula Babong (demokrasi) dilakukan secara langsung yaitu menjaga integritas lembaga adat, melakukan ritual adat, menyelesaikan konflik sosial, dan menegakan keadilan. Nilai-nilai budaya yang terdapat pada budaya Kula Babong (demokrasi) adalah nilai religius, nilai musyawarah-mufakat, nilai kebersamaan, dan nilai keterbukaan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Du’a Mo’an Watu Pitu sudah menjalankan perannya secara maksimal.

Keywords

Demokrasi lembaga adat budaya

Article Details

How to Cite
Mitan, K. A., & Nuwa, G. (2022). Eksistensi Du’a Mo’an Watu Pitu dalam Melestarikan Budaya Kula Babong pada Masyarakat Etnis Krowe di Kabupaten Sikka . AL MA’ARIEF : Jurnal Pendidikan Sosial Dan Budaya, 4(1), 29-40. https://doi.org/10.35905/almaarief.v4i1.2698

References

  1. Bachtiar, M. (2017). Peranan lembaga adat melayu riau dalam penyelesaian konflik tanah ulayat di provinsi riau. Republika, 16(2), 298–312.
  2. Creswell, J. W. (2012). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  3. Desi, P. & Cahyo, S. (2014). Musyawarah mufakat atau pemilihan lewat suara mayoritas diskursus pola demokrasi di Indonesia. Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi, 13(2), 1–13.
  4. Fernando, A. (2020). Peran du’a mo’an watu pitu sebagai lembaga pemangku adat dalam proses penyelesaian perkara tindak pidana melalui sanksi adat desa hewokloang kabupaten sikka. Maumere: IKIP Muhammadiyah Maumere.
  5. Gisela., N. (2020). Nilai-nilai budaya dalam upacara neni uran wair pada masyarakat Tanah Ai di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur. Jurnal Etnoreflika, 13(3), 325–342.
  6. Gisela Nuwa. (2019). Menggali nilai-nilai kearifan lokal peran kepala adat sebagai sebagai bentuk pengintegrasian pendidikan kewarganegaraan. 1(1), 810–841.
  7. Henry, C. (2007). Integritas – keberanian memenuhi tuntutan kenyataan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  8. Hidayati. Kepemimpinan Dalam Keragaman Budaya, Diklat KepemimpinanTinggkat III Badan Pendidikan dan Latihan Propinsi NTB : Mataram. , (2008).
  9. Koodoh, E. E. (2020). Eksistensi ritual melaut di pusaran paham keagamaan. Etnoreflika, 9(2), 164–177.
  10. Masputri. (2013). Mantra menumbai pada masyarakat Melayu Rokan (Kajian Struktur teks, konteks sebagai bahan ajar di SMA Universitas Pendidikan Indonesia. Skripsi. Repositori Perpustakaan Unversitas Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: UPI.
  11. Miharja, D. (2015). Keberagaman masyarakat adat Cikondang dalam menghadapi modernisasi. Journal of Islamic and Social Studies, 1(1), 1–7.
  12. Nanik, H. (2016). Model Proses Pewarisan Nilai-nilai Budaya Lokal dalam Tradisi Masyarakat Buton. 18(2), 108–115.
  13. Nurmayanti, Y., Dwi Wulandari, L., & Murti Nugroho, A. (2017). Perubahan ruang berbasis tradisi rumah jawa panaragan di desa kaponan. LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR. https://doi.org/10.26418/lantang.v4i1.20393
  14. Nuwa, G. (2021). Democratic Principal (Kula Babong) Leadership Model: Examining The Role Of Du’a Moan Watu Pitu In Sikka Krowe Community. Jurnal Pedagogia, 11(1), 37–52.
  15. Ranjabar, J. (2006). Sistem sosial budaya indonesia: suatu pengantar. Bogor: PT. Ghalia Indonesia.
  16. Rera, A. (n.d.). Bali News Network. (Online) Tersedia (p. 2017). p. 2017.
  17. Suswandari. (2020). Kearifan lokal dalam keragaman etnik di kabupaten sikka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  18. Syafie, K. . (2013). Sistem pemerintahan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
  19. Syahril, S. (2019). Teori-teori kepemimpinan. Jurnal Ri’ayah, 4(2), 209–215.
  20. Taniardi, P. N. (2017). Relasi sosial budaya ata krowe dan gunung mapitara. Jurnal Berkala Arkeologi, 37(1), 15–34.
  21. Zahrawati B, F. (2018). Membebaskan anak tunadaksa dalam mewujudkan masyarakat multikultural demokratis. Al-MAIYYAH : Media Transformasi Gender Dalam Paradigma Sosial Keagamaan, 11(1), 171–188. https://doi.org/10.35905/almaiyyah.v11i1.551
  22. Zahrawati, F., & Faraz, N. J. (2017). Pengaruh kultur sekolah, konsep diri, dan status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku konsumtif siswa. Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS, 4(2), 131–141.